"Allo?"
"Tara?"
"Elise?" gumam Tara dan bahunya merosot.
"Aku meneleponmu untuk memberitahu supaya kau mendengarkan siaranku nanti."
"Kenapa?"
"Ini penting sekali." Suara Elise terdengar serius.
"Katakan padaku, Elise," desak Tara.
"Monsieur Fujitatsu menulis e-mail lagi."
Tara menahan napas.
"Dan ini adalah e-mail terakhirnya."
***
"Apakah ada yang tau bagaimana rasanya mencintai seseorang yang tidak boleh dicintai? Aku tau."Kalimat pembuka dari e-mail Tatsuya itu membuat Tara menahan napas.
"Aku memang baru mengenalnya, tapi rasanya aku sudah mengenalnya seumur hidup. Dan tiba-tiba saja, aku sadar dia telah menjadi bagian yang sangat penting dalam hidupku.
"Aku pertama kali bertemu dengannya di bandara Charles de Gaulle. Lalu tanpa sengaja aku bertemu dengannya lagi di sebuah kelab ketika dia agak mabuk dan salah menyebut nama si bartender. Aku akhirnya tahu namanya pada pertemua kami yang ketiga. Salah seorang temanku mengenalkannya kepadaku.
Selama ini aku tidak pernah percaya pada yang namanya kebetulan, tetapi ini seperti takdir. Karena akhirnya aku mendapat kesempatan mengenalnya.
"Saat itu juga aku memutuskan akan mencoba keberuntunganku. Sudah tida kali aku bertemu dengannya tanpa sengaja
Bintang keberuntunganku ternyata sedang bersinar terang saat itu. Aku bertemu dengannya lagi, tanpa sengaja. Kali ini dia yang datang menghampiri dan menyapaku. Harus kuaikui, aku begitu terpana sampai-sampai mendadak bisu sesaat. Aku tau aku harus menepati janjiku sendiri. Aku pun mengajaknya menemaniku ke museum.
"Benar, gadis misterius yang kutemui di bandara dan Gadis Musim Gugur adalah orang yang sama.
"Hidup ini sungguh aneh, juga tidak adil. Suatu kali hidup melambungkanmu setinggi langit, kali lainnya hidup menghempaskanmu begitu keras ke bumi. Ketika aku menyadari dialah satu-satunya yang paling kubutuhkan dalam hidup ini, kenyataan berteriak di telingaku, dia juga satu-satunya orang yang tidak boleh kudapatkan. Kata-kataku mungkin terdengar tidak masuk akal, tapi percayalah, aku rela melepaskan apa saja, melakukan apa saja, asal bisa bersamanya. Tetapi apakah manusia bisa mengubah kenyataan?
"Satu-satunya yang bisa kulakukan sekarang adalah keluar dari hidupnya. Aku tidak akan melupakan dirinya, tetapi aku harus melupakan perasaanku padanya walaupun itu berarti aku harus menghabiskan sisa hidupku mencoba melakukannya. Pasti butuh waktu lama sebelum aku bisa menatapnya tanpa merasakan apa yang kurasakan tiap kali aku melihatnya. Mungkin suatu hari nanti
Tepat pada saat itu terdengar bunyi ponsel. Secara otomatis Tara meraih ponselnya dan menempelkannya ke telinga. Tidak peduli ponselnya jadi basah karena ari matanya yang mengalir deras.
"Tara?" Suara Sebastien terdengar di telinganya. "Aku ada di bandara. Pesawat Tatsuya baru saja tinggal landas."
Tara tidak bisa mendengar suara Sebastien lagi. Poselnya terlepas dari genggaman dan jatuh ke ranjang. Napasnya mulai tersendat-sendat dan dadanya sakit setiap kali ia berusaha menarik napas. Namun ia bisa mendengar suara pelan Elise yang membacakan surat Tatsuya.
"Sekarang... saat ini saja... untuk beberapa detik saja... aku ingin bersikap egois. Aku ingin melupakan semua orang, mengabaikan dunia, dan melupakan asal-usul serta latar belakangku. Tanpa beban, tuntutan, atau harapan, aku ingin mengaku.
"Aku mencintainya."
Saat itulah, secuil kendali diri Tara yang rapuh akhirnya hancur berkeping-keping dan tangisnya pun pecah. Ia membenamkan wajahnya dalam kedua tangan dan tersedu-sedu. Seluruh tubuhnya berguncang keras. Ia membiarkan isakannya, sedu-sedannya, air matanya tumpah keluar. Ia tidak bisa menahannya walaupun ia ingin. Ia hanya berharap sepenuh hati, dengan begitu rasa sakit dan kepedihannya juga akan berkurang, walaupun sedikit. Karena ia sunggu tidak tau lagi apa yang bisa dilakukannya terhadap lubang besar yang menganga di dalam dadanya. Tempat hatinya dulu berada
***
(Ilana Tan, Autumn In Paris. Ini adalah salah satu novel kesukaanku sepanjang masa, dan ini adalah bagian terfavoritku dari novel ini :"))

Tidak ada komentar:
Posting Komentar