Cerita ini kuawali dengan mengatakan bahwa aku
bangga dilahirkan menjadi manusia, sosok yang notabene disebut-sebut sebagai
makhluk Tuhan yang paling sempurna. Seseorang yang nantinya hidup, lalu mati. Seseorang
yang diciptakan dari tanah, dan nanti juga kembali menjadi tanah. Bahkan
seorang filosof seperti Socrates pernah mendefinisikan’ku’ sebagai Zoon
Politicon; hewan yang bermasyarakat. Dan filosof lain menyebutku sebagai Das
Kranke Tier; hewan yang sakit, yang selalu gelisah dan bermasalah.
Siapa ‘Aku’? ‘Aku’ bukan hanya tentangku, tapi ‘aku’
juga tentang orang-orang disekitarku.
Aku dilahirkan dari uterus seorang wanita yang biasa
kupanggil dengan sebutan ibu. Ya, tepat pada hari Kamis, tanggal 6 April tahun
1995 saat Adzan Dhuhur berkumandang di Kota Batu, lahirlah aku, anak perempuan
yang sering disebut-sebut ibuku sebagai anak perempuan tercantik yang pernah
dilihatnya. Ayah dan ibuku memberiku nama Elvi Hidayati; nama kecil yang
bermakna seribu petunjuk. Dengan harapan, nantinya akan ada banyak petunjuk
saat aku menjalani perjalanan singkat di dunia ini. Ayahku bernama Maksum
Bukhori, lengkap dengan titel Insinyur di depan namanya. Sosok yang sudah
memiliki gurat-gurat penuaan di wajahnya ini adalah ayahku, ayah terbaikku yang
sudah memberikan cintanya padaku selama tujuh belas tahun. Ayahku sudah berusia
empat puluh delapan tahun, tapi gurat-gurat penuaan di wajahnya sama sekali tak
bisa menutupi ketampanannya, juga ketegasan yang tergambar dari garis-garis
yang terlukis di wajahnya. Ah, pantas
saja dulu ibuku jatuh cinta kepadanya, pikirku. Ayahku sosok yang cerdas
dan penyayang—meskipun kadang-kadang aku dongkol karena kekeraskepalaannya. Ibuku,
wanita cantik yang rahimnya pernah kusinggahi itu bernama lengkap Fakhrunisak.
Sosok yang paling kucintai, yang rela membagi cinta ayahku kepada anak-anaknya.
Ibuku penyabar, penyayang, dan sosok ibu terbaik yang pernah kubayangkan.


