Ahlan Wa Sahlan...

Sabtu, 29 September 2012

Who am I? Siapakah aku?




Aku mengenal diriku lebih dari yang orang lain tahu tentangku.

Cerita ini kuawali dengan mengatakan bahwa aku bangga dilahirkan menjadi manusia, sosok yang notabene disebut-sebut sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna. Seseorang yang nantinya hidup, lalu mati. Seseorang yang diciptakan dari tanah, dan nanti juga kembali menjadi tanah. Bahkan seorang filosof seperti Socrates pernah mendefinisikan’ku’ sebagai Zoon Politicon; hewan yang bermasyarakat. Dan filosof lain menyebutku sebagai Das Kranke Tier; hewan yang sakit, yang selalu gelisah dan bermasalah.

Siapa ‘Aku’? ‘Aku’ bukan hanya tentangku, tapi ‘aku’ juga tentang orang-orang disekitarku.

Aku dilahirkan dari uterus seorang wanita yang biasa kupanggil dengan sebutan ibu. Ya, tepat pada hari Kamis, tanggal 6 April tahun 1995 saat Adzan Dhuhur berkumandang di Kota Batu, lahirlah aku, anak perempuan yang sering disebut-sebut ibuku sebagai anak perempuan tercantik yang pernah dilihatnya. Ayah dan ibuku memberiku nama Elvi Hidayati; nama kecil yang bermakna seribu petunjuk. Dengan harapan, nantinya akan ada banyak petunjuk saat aku menjalani perjalanan singkat di dunia ini. Ayahku bernama Maksum Bukhori, lengkap dengan titel Insinyur di depan namanya. Sosok yang sudah memiliki gurat-gurat penuaan di wajahnya ini adalah ayahku, ayah terbaikku yang sudah memberikan cintanya padaku selama tujuh belas tahun. Ayahku sudah berusia empat puluh delapan tahun, tapi gurat-gurat penuaan di wajahnya sama sekali tak bisa menutupi ketampanannya, juga ketegasan yang tergambar dari garis-garis yang terlukis di wajahnya. Ah, pantas saja dulu ibuku jatuh cinta kepadanya, pikirku. Ayahku sosok yang cerdas dan penyayang—meskipun kadang-kadang aku dongkol karena kekeraskepalaannya. Ibuku, wanita cantik yang rahimnya pernah kusinggahi itu bernama lengkap Fakhrunisak. Sosok yang paling kucintai, yang rela membagi cinta ayahku kepada anak-anaknya. Ibuku penyabar, penyayang, dan sosok ibu terbaik yang pernah kubayangkan.
Aku kakak petama dari dua bersaudara. Jadi, aku hanya punya satu adik, dan dia perempuan, sama sepertiku. Namanya Arifatul Izzah. Usianya baru menginjak tiga belas tahun, namun tingginya sudah mencapai seratus lima puluh enam sentimeter, yang berarti bahwa dia lebih tinggi tiga sentimeter dari aku yang hanya memiliki tinggi badan seratus lima puluh tiga sentimeter. Dia dilahirkan di desa yang sama dengan desa tempat kelahiran ayahku pada tanggal dua maret tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan, dan sekarang dia duduk di kelas dua sekolah menengah pertama. Adekku tipe orang yang supel, ceria, dan terkadang tak tau malu. Dia baik, tapi mengesalkan. Dia mengesalkan, tapi baik. Ya, itulah adikku. Orang yang sering kusalahkan karena banyak hal, but deep down, aku menyayanginya sebagai seorang saudara, dan sebagai orang kepercayaan yang sering kurecoki dengan berbagai masalah yang kupunya.
Setelah tamat dari Taman Kanak-kanak Aisyiyah Bustanul Athfal 1 batu pada tahun 2001, aku melanjutkan studi di Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum batu. Jika dilihat dari bangunannya, mungkin madrasah ini terlihat sangat sederhana. Tapi jangan ditanya tentang kualitas, karena guru-guru disana tidah hanya mengajarkan bagaimana anak-anak didiknya hanya sukses di dunia, tapi juga sukses di akhirat. Subhanallah. Setelah lulus pada tahun 2007, alhamdulillah, aku diterima di salah saatu madrasah terfavorit di kabupaten malang. Sebut saja MTs Negeri malang 3 yang terletak di jalan sepanjang, gondanglegi. Madrasah ini memiliki kualitas yang bagus, dengan sarana prasarana yang lengkap dan guru-guru yang berkompeten di bidangnya. Atas izin Allah, akhirnya aku bisa lulus dari MTs Negeri Malang 3 hanya dalam kurun waktu dua tahun dengan mengikuti sebuah program yang baru dicanangkan di MTsN Malang 3 pada tahun 2007 yang biasa disebut dengan program akselerasi. Program akselerasi sendiri adalah program layanan pendidikan yang diberikan kepada siswa yang memiliki potensi kecerdasan diatas rata-rata untuk dapat menyelesaikan belajar lebih cepat dari target waktu yang telah ditentukan, yaitu dari tiga tahun menjadi dua tahun. Program ini adalah wadah khusus bagi mereka yang memiliki potensi dan keunggulan dalam kecakapan, minat, dan bakat. Pada dasarnya, materi yang dipelajari di kelas ini relatif sama dengan siswa kelas reguler, hanya saja waktunya yang dipercepat.
Setelah lulus dari MTs Negeri Malang 3 dengan nilai yang cukup memuaskan, akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan belajar di Madrasah Aliyah negeri 3 malang yang terletak di jalan bandung no. 7 malang. Di madrasah ini, alhamdulillah, atas izin Allah dan dukungan orang tua, akhirnya aku kembali mengikuti program akselerasi, sehingga pada tahun 2011, aku sudah bisa menyamai langkah kakak-kakakku untuk belajar di universitas.
Saat ini, statusku adalah seorang mahasiswa tahun kedua di sebuah universitas terkemuka di Kota Malang. Ilmu yang kugeluti saat ini adalah ilmu alam, yang berhubungan dengan alam dan seluruh komponen-komponen yang ada di dalamnya. Ilmu yang membuatku makin mencintai hidupku, mencintai duniaku, dan mencintai Tuhanku, Allah Azza Wajalla. Ilmu yang membuatku percaya bahwa segala sesuatu memiliki awal, dan juga memiliki akhir, juga ilmu yang membuatku percaya bahwa Pencipta kesempurnaan ini sungguh Mahasempurna.
Aku terlahir menjadi seorang homo sapiens, manusia modern yang membutuhkan orang lain untuk dapat melangsungkan hidupnya. Menggeluti bidang ilmu alam bukan berarti aku tidak tak peduli dengan ilmu sosial. Memang, aku tak mempelajari ilmu ini secara formal dalam kelas, dengan dosen yang bernarasi dan papan tulis yang dipenuhi dengan teori-teori tentang interaksi sosial, tapi aku mempelajari ilmu ini dari lingkunganku, dan dari orang-orang disekitarku. Bagaimana aku berunggah-ungguh terhadap yang lebih tua, bagaimana aku bertingkah terhadap yang lebih muda, dan bagaimana aku harus melakukan segalanya selayaknya seorang manusia.
Meskipun aku seorang insan akademis, aku tak pernah melupakan sisi lain dari diriku sebagai seorang aktivis yang peduli terhadap orang-orang disekitarnya. Aku suka mengikuti kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan sosial, karena selain melatih sikap tanggungjawab paada diriku, aku juga ingin menjadi manusia yang bisa memberi manfaat pada manusia yang lainnya. “Khairan naas anfauhum li an-naas. (terjemah: sebaik-baik manusia adalah yang dapat memberi manfaat pada orang lain)”.

Bukankah setiap manusia memiliki karakteristik yang berbeda-beda?

Setiap orang tentunya memiliki karakteristik, sikap, dan ciri khas yang membedakannya dengan manusia yang lainnya. Begitu pula aku. Orang bilang bahwa ‘aku mengenal diriku lebih dari yang orang lain tau tentangku’. Aku seorang anak yang kurang percaya pada dirinya sendiri, sehingga saat aku harus menjadi center of attention, aku selalu merasa diriku tidak mungkin bisa, padahal toh aku pasti bisa. Aku bukan tipe orang yang suka mengikuti mode; dalam artian, aku lebih suka menjadi diriku sendiri, bukan menjadi sosok yang orang lain gandrungi. Aku suka mengenakan apapun yang aku rasa nyaman dan pantas untuk kukenakan, dan bukan mengenakan apa yang orang lain ingin aku kenakan. Aku tipe anak yang hiperaktif, sehingga dalam beberapa situasi, terkadang sangat sulit mengondisikan diriku sendiri untuk fokus tanpa melakukan hal-hal lain yang sekiranya tidak memberikan maanfaat padaku.
Aku mempunyai mimpi menjadi seorang guru, yang notabene adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Guru yang mengajari anak-anaknya A, B, C sampai Z, guru yang mengajarkan anak-anaknya bagaimana Allah menciptakan alam semesta, dan guru yang mengajarkan anak-anaknya bertasbih memuji kebesaran Allah SWT. Dari tangankulah aku ingin melahirkan generasi-generasi penerus yang cinta tanah airnya, cinta agamanya, dan cinta pada dirinya seindiri.
Menjadi seorang guru ternyata tidak semudah yang semula aku bayangkan. Seorang guru harus memiliki dedikasi yang tinggi pada profesinya. Harus rela mengorbankan waktunya untuk turut menyukseskan salah satu tujuan bangsa Indonesia yakni “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Seorang guru juga harus profesional dan berkredibilitas tinggi, karena dengan menjadi seorang guru, masa depan bangsa Indonesia berada di kedua tangannya.

Siapa aku? aku adalah Elvi Hidayati. Aku bangga menjadi diriku saat ini, dan alangkah bahagianya jika aku bisa menjadi diriku yang lebih baik lagi J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar